proses pembuatan kaos

7 Proses Pembuatan Kaos

Konveksi Semarang akan sedikit berbagi mengenai proses pembuatan kaos. Proses ini bermula dari kapas, kemudian diubah menjadi benang, lalu menjadi kain, dan terakhir dijahit menjadi kaos.

Seperti yang sudah kita ketahui, bahan baku pokok untuk menciptakan kaos baik polo shirt maupun t-shirt ialah kain katun. Sedangkan bahan untuk menciptakan kain katun ialah polyester dan kapas.

Untuk menciptakan kaos, t-shirt dan polo shirt, awalnya dari bahan baku yang sangat dasar yakni kapas. Sejauh ini di Indonesia belum dapat memenuhi keperluan kapas dalam negeri. Sampai-sampai masih menyebabkan impor dari luar negeri. Negara yang tidak sedikit memproduksi kapas ialah India, Cina dan Pakistan.

Berikut 7 tahap dan proses pembuatan yang harus dilewati.

1. Spinning / Pemintalan

Dari kapas, untuk menciptakan kain kaos dinamakan proses pemintalan atau dalam bidang garmen biasa dinamakan dengan spinning. Spinning yaitu proses mengubah kapas menjadi benang.

2. Soft Winder

Setelah proses spinning (pemintalan) selesai maka hasilnya ialah benang. Benang hasil spinning ini bakal berlanjut ke proses berikutnya yang dinamakan soft winder. Proses ini merupakan proses penggulungan benang hasil spinning tadi.

3. Pewarnaan Benang

Benang yang sudah digulung melewati soft winder, bakal berlanjut lagi ke proses pencelupan benang. Tujuannya ialah untuk memberikan warna pada benang. Jadi warna kain yang kita lihat biasanya berasal dari pencelupan benang ini. Setelah proses ini selesai lantas benang dikeringkan.

4. Weaving / Penenunan

Proses berikutnya sesudah pencelupan benang atau pewarnaan pada benang ialah weaving. Weaving biasa dinamakan proses tenun, yakni proses mengubah benang menjadi kain. Sebelum ke proses weaving atau penenunan, benang butuh dipersiapkan dahulu. Proses ini, menyiapkan benang terlebih dahulu sampai berupa anyaman benang yang akan disiapkan untuk masuk ke mesin tenun. Setelah proses tersebut selesai, berlanjutlah ke proses penenunan atau weaving. Setelah proses tenun ini berlalu maka hasilnya ialah berupa lembaran kain.

proses penenunan benang
proses penenunan benang

5. Shiage

Kain dari hasil penenunan ini lantas berlanjut ke proses pengecekan atau dinamakan Shiage. Pada proses ini kain akan diperiksa dan ditentukan kualitasnya. Bila dari pengecekan ditemukan cacat produksi maka kain dikirim ke divisi perbaikan.

Pada proses shiage ini juga dilaksanakan klasifikasi kain yang cocok dengan jenisnya. Pakaian jenis kaos seringkali hasilnya berupa bahan cotton combed, teteron cotton atau pun cotton carded. Sementara pada kaos polo, seringkali dibuat dari jenis cotton pique yang memiliki pori-pori lebih lebar.

Baca Juga : Pembelian Karangan Bunga Jadi Lebih Mudah Via Online

6. Dyeing

Selesai dari proses shiage atau pengecekan. Kain bakal berlanjut ke proses poles warna, penampilan dan handling, yang dinamakan dengan proses dyeing. Proses dyeing adalah proses tahap akhir dari proses produksi kain.

Sebelum kain ini dilempar ke pasaran terdapat satu proses lagi yakni penggulungan dan pengepakan kain sesuai dengan pesanan customer. Sampai etape ini selesailah proses pembuatan kain di pabrik.

Kemudian kain akan dijual ke customer atau penyalur dan pusat grosir kain. Dari tempat-tempat tersebut inilah bisanya pelaku bidang garmen seperti konveksi dan percetakan sablon kaos garmen menemukan pemasok bahan baku kain.

7. Pemotongan Kain dan Penjahitan

Sampai pada tingkatan konveksi, kain-kain tadi digunting sesuai pola kaos yang akan dibuat. Setelah pemotongan kain kaos selesai, lantas kain dijahit dan dikemas hingga menjadi produk akhir yaitu kaos atau kaos polo.

Bidang tekstil atau garmen mulai dari hulu sampai hilir saling mempunyai ketergantungan. Sehingga amat dibutuhkan stabilitas harga dan jumlah pemasokan bahan baku supaya industri tekstil ini tetap berkembang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *